Cheeky Quotes

Sabtu, 24 November 2012

Sebelum Jakarta Benar-Benar tenggelam


Aah….! Nya’ banjir!

Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk
Ané jadi gemeteran, wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran gara-gara got mampet

Aa~ti-ati kompor meledug
Aa~ti ané jadi dag-dig-dug (heh.. jatuh duduk)
Aa~yo-ayo bersihin got
Jaa~ngan takut badan blépot

Coba enéng jangan ribut, jangan padé kalang kabut

Aarrrgh!!…
            Pernahkah kita mendengar lirik lagu di atas?. Ya, benar, lagu tersebut diciptakan dan sekaligus dinyanyikan oleh almarhum Benyamin Sueb.
            Saya tertarik untuk membuat tulisan ini karena saat ini Jakarta dilanda hujan dan akibatnya beberapa terendam banjir. Kalau kita cermati, banjir sendiri bukanlah masalah baru bagi Jakarta. Banjir seakan telah menjadi ikon bagi Jakarta. Bahkan ada juga yang mengatakan “bukan Jakarta namanya kalo ga banjir”. Bukan bermaksud apa-apa tapi memang benar begitu adanya. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masalah ini tak kunjung selesai padahal berbagai macam cara telah dilakukan pemerintah DKI termasuk membangun banjir kanal barat dan timur.
            Ada orang berpendapat bahwa masalah banjir di Jakarta tidak akan pernah selesai. Siapapun yang memimpin Jakarta tidakakan mampu mengatasi banjir. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi gubernur Jakarta yang baru saja terpilih Ir. Joko Widodo.
            Namun, seharusnya masalah tersebut tidak lah arif jika ditangani oleh gubernur sendiri. Peran serta masyarakat justru lebih dituntut. Dengan jumlah warga Jakarta yang banyak tentu saja akan memproduksi sampah yang banyak setiap harinya. Peringatan untuk membuang sampah pada tempatnya merupakan peringatan yang telah didengungkan berabad-abad silam tapi tetap susah untuk diaplikasikan.
            Kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan sangatlah penting. Dengan tanah yang masih tersisa mari kita jaga kelestarian alam. Jadikanlah alam sebagai sahabat bagi kita bukan sebagai tempat memuaskan nafsu belaka.
            Nampaknya filososi pendaki gunung bisa kita terapkan di manapun kita berada “take nothing but picture, leave nothing but footprints” , demi menjaga lingkungan tempat tinggal kita agar terhindar dari banjir, tanah longsor, dsb.
          

  Jakarta Timur, 24 November 2012
  Refleksi anak rantau

Rabu, 21 November 2012

Bebaskan Palestina Sekarang Juga!!!


                Sepak terjang kaum zionis Israel dari hari ke hari semakin membuat kuping ini panas. Bagaimana tidak serangan yang dilancarkan terhadap rakyat Palestina kian hari kian menjadi-jadi. Rakyat Palestina yang hanya memiliki senjata se adanya ditembaki dengan berbagai senjata canggih. Entah apa yang ada di benak bangsa israel, entah apa yang menjadikan mereka mesin pembunuh yang begitu kejam. Apakah mereka manusia?
                Seluruh alam mengutuk tindakan bangsa israel yang beringas itu. Ya, saya yakin tidak hanya manusia yang memiliki hati yang  mengutuk tindakan mereka itu tapi juga semesta alam. Serangan kaum yahudi israel lancarkan kepada kaum muslimin Palestina banyak menewaskan ratusan orang yang pada umumnya kaum ibu dan anak-anak. Astaghfirullah, Islam tidak pernah mengajarkan sedikitpun untuk menyakiti perempuan, anak-anak, orang tua dan orang-orang  yang tidak berdaya ketika perang berkecamuk.
                Di media-media masa, orang-orang di seluruh dunia melakukan aksi protes dan penggalangan dana untuk rakyat Palestina. Tidak peduli apa agama dan latar belakang mereka tapi yang jelas mereka protes karena rasa kemanusian yang ada dalam diri mereka. Ya, benar sekali,  setiap manusia pada dasarnya memiliki rasa kemanusian, rasa mencintai sesama, dan rasa peduli kepada orang lain.
                Namun lain halnyanya dengan bangsa zionis israel. Ada pengecualian atas mereka. Mereka tidak pantas disebut manusia. Entah makhluk jenis apa mereka itu. Mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan. Yang ada dalam benak mereka adalah menghancurkan kaum muslimin.
                Di dalam hati sanubari saya yakin dan percaya Palestina akan segera bebas dan kejayaan umat Islam akan kembali. Kaum yahudi pun pasti akan dikalahkan sebagaimana kaum muslimin mengalahkan mereka di perang Khaibar bahkan lebih dari itu.

                Rawamangun, 21 November 2012
               
                

Jumat, 09 November 2012

MARI BUNG REBUT KEMBALI!!!


      Tanggal 7 November 2012 merupakan pengukuhan dwi tunggal Soekarno-Hatta sebagai pahlawan nasional. Pengukuhan diadakan di Istana negara oleh Presiden SBY. Pemberian gelar pahlawan nasional tersebut diwakili oleh masing-masing keluarga. Keluarga Bung Karno diwakili oleh Guntur Soekarno Putra dan keluarga Bung Hatta diwakili oleh anaknya Meutia Hatta.
      Yang menjadi pertanyaan di benak kita sekarang mungkin kenapa baru sekarang kedua tokoh proklamator itu dikokohkan sebagai pahlawan nasional??...hmm...sayapun tak berani berspekulasi.
    Besok tanggal 10 November 2012 merupakan peringatan hari pahlawan atas pertempuran di Surabaya pada tahun 1945 antara Indonesia melawan tentara Belanda bersama sekutu melalui NICA. Bung Tomo selaku komandan pasukan membakar semangat para pejuang dengan pidatonya yang berapi-api. Berikut bunyi pidato Bung Tomo itu:
Bismillahirrahmanirrahim …
Merdeka !!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama, saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang kita rebut dari tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya kita semua datang kepada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda menyerah kepada mereka.
Saudara-saudara, didalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli & seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, didalam pasukan-pasukan mereka masing-masing dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu, saudara-saudara dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk menghentikan pertempuran. Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini. Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Dengarkanlah ini hai tentara Inggris, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris !
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih takluk kepadamu, menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang kita rampas dari Jepang untuk diserahkan kepadamu.
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada. Tetapi inilah jawaban kita: Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah & putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga!
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..!
Allahu Akbar..!
Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!
        Kalau kita cermati sosok Bung Tomo kala itu berumur 25 tahun. Artinya di saat usia yang masih sangat muda, beliau telah mampu menjadi pemimpin perang yang memimpin ribuan pasukan. Semangat jiwa mudanya begitu menggelora sehingga ia disegani baik oleh kawan maupun lawan. Selain itu beliau memiliki sisi relijius yang kuat yang berkeyakinan bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang berjuang.
        Renungkan sahabat dan bandingkan dengan usia kita saat ini. Ayo lah kawan sudah saat nya kita pikirkan negara dan bangsa ini karena kita memiliki hak atas itu. Dalam renungan itu  tanyakan juga pada diri kita sendiri apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini. Sudahkah kita berbuat?. Jika belum lakukan lah sekarang karena kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi?

SELAMAT HARI PAHLAWAN BUAT PEMUDA INDONESIA: MERDEKA ATAU MATI

 Rawamangun, Jakarta, 9 November 2012

Kamis, 08 November 2012

MERANTAU

           Ada rasa bangga yang muncul di dalam hati saya ketika disebutkan tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Sumatera Barat (red Minangkabau). Sebagai pemuda Minang ingin rasanya  seperti Bung Hatta yang merupakan tokoh proklamator Indonesia. Orang yang jujur dan tekun. Ingin juga rasanya mengenyam kuliah di luar negeri sana dan kembali untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
          Atau seperti Buya HAMKA, ulama sekaligus sastrawan yang memikat. Beliau berkontribusi besar untuk negeri ini. Namanya harum seharum karyanya. Ataupun seperti Sutan Syahrir, M.Natsir, H. Agus Salim, Tan Malaka, M. Yamin, dan masih banyak yang lainnya.
          Setelah saya cermati kisah hidup mereka satu persatu. Sayapun sampai pada suatu kesimpulan bahwa kalau ingin jadi orang besar merantaulah karena di rantau kita akan ditempa sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang mumpuni. Berikut saya kutip kata mutiara yang terdapat dalam novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi:
 “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang
Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan”

                Kata-kata tersebut diajarkan dan ditanamkan kepada para siswa di Pondok pesantren Gontor jawa Timur. Menurut hemat saya sangatlah inspiratif kata-kata sederhana ini dan memang benar adanya.
                Pada novel keduanya pun-ranah 3 warna-saya menemukan kata-kata inspiratif lainnya. Seperti ini bunyinya:
“Bersabarlah dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus meneruslah berbuat baik ketika di kampung atau di rantau
Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian yang akan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tidak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan"

                Kata-kata tersebut diterjemahkan dengan bebas dari syair Sayyid Ahmad Hasyim, syair ini diajarkan pada tahun ke 4 di pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Bismillah, semoga niat baik ini dimudahkan

Rawamangun, Jakarta, 8 November 2012.
               



Selasa, 06 November 2012

PESAWAT DAN CERITANYA




             Ceritanya saya sedang berada di atas pesawat Lion Air tujuan Jakarta. Awalnya sih pengen menikmati perjalanan dengan cara tidur aja di atas pesawat. Tapi sejurus kemudian saya melihat ibu-ibu yang duduk di sebelah saya asyik membolak balik majalah yang tersedia di dalam pesawat. Saya tau ibu tersebut sedang membaca artikel yang ada dalam majalah tersebut. Demi melihat itu sayapun tertarik untuk membuka majalah LIONMAG, edisi oktober 2012 yang sudah ada di depan saya sejak tadi.
Saya buka dan skimming majalah itu. Nah, dari hasil skimming saya ada tiga buah artikel yang saya rasa paling menarik diantara yang lainnya. Ketertarikan saya karena artikel-artikel tersebut karena ada unsur petualangan dan budaya yang terkandung di dalemnya..hehehe.
Baiklah, saya ingin berbagi dengan anda tentang apa yang saya telah baca. Pertama, artikel tentang petualangan seseorang yang bernama Gegen ke Gunung Rinjani, di Nusa Tenggara Barat. Gunung yang memiliki ketinggian 3.726 mdpl dan sekaligus merupakan gunung vulkanik tertinggi ke dua setelah gunung Kerinci di Sumatera.
Di dalam tulisannya, gegen memuat sebait puisi yang ditulis oleh Susan Polis Schutz. Begini puisinya;
Come into the mountains, dear friend
Leave society and take no one with you
But your true self
Get close to nature
Your everyday games will be insignificant
Notice the clouds spontaneously forming patterns
And try to do with your life.

     Puisi tersebut menyentakkan kembali jiwa petualangan saya. Ingin sekali rasanya menyeduh kopi panas di puncak Rinjani itu. Maka sayapun memasukkan Rinjani ke dalam list destinasi saya berikutnya dan yakini  bahwa suatu saat nanti akan terwujud.

            Kedua, anda tentu pernah mendengar Toraja. Apa yang melintas di pikiran anda jika kata itu disebutkan. Hmmm..bisa saja anda berkata bahwa Toraja terkenal dengan kuburan batunya. Anda benar, tapi tahukah anda artikel dalam majalah itu memuat bahwa ternyata masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan sana setiap tiga tahun sekali di bulan agustus menggelar upacara Ma’nene’. Upacara tersebut merupakan upacara membersihkan mayat mayat yang berada dikuburan batu atau di peti mati untuk dibersihkan dan diganti bajunya. Layaknya orang hidup, mayat mayat yang telah diawetkan dengan bahan-bahan alami tersebut juga diajak berfoto oleh sanak keluarganya. Menyeramkan??..kelihatannya tidak juga karena mereka dianggap tetap ada oleh keluarganya. Mungkin saja kalau mayat itu bisa ngomong mereka akan minta di belikan baju baru tiap tahun...hehehe...
            Adat istiadat yang seperti itupun mengundang rasa penasaran saya untuk melihat secara langsung upaca tersebut dan berfoto juga dengan mayat-mayat keren itu..hehe..Baiklah Toraja dan upacara Ma’nene’ masuk list.

            Ketiga, siapa yang kenal dengan Hendrikus Albertus Lorentz?. Bagi orang Papua tentu nama itu tidak asing.  Dia adalah penjelajah Papua di tahun 1907-1909. Namanya di abadikan menjadi nama taman nasional Lorentz di Papua sana seperti yang diceritakan dalam artikel ke tiga ini. Lorentz pun telah menginspirasi saya untuk menjelajah taman nasionalnya yang ada di Papua. Saya berjanji akan bertemu dengan anda pak Loretz di Papua sana.hehe... Baiklah Taman Nasional Lorentz masuk list.

                                                                         Last but not least I LOVE INDONESIA. Kenali Negrimu, Cintai Negrimu, Indahkan Negerimu

Rawamangun, 06 November 2012.