Cheeky Quotes

Rabu, 10 September 2014

Hanya ada 1 kata “LAWAN”

Lawan bukanlah Berkawan
Lawan berarti tidak kawan
Lawanlah setiap bentuk ketidak adlian
Karena dengan melawan berarti peduli
Lawanlah setiap bentuk penindasan

Lawanlah politik kekuasaan

Selasa, 09 September 2014

Kajian Wacana

Apa yang muncul di benak kita jika mendengar kata wacana? Mungkin saja kita akan menjawab wacana sama dengan teks bacaan, atau mungkin kita menjawab wacana itu sama dengan perencanaan.
Tidak ada salahnya anda berpendapat demikian karena anda memiliki sudut pandang tersendiri. Sedangkan kalau wacana kita lihat dari sudut pandang ilmu lingustik adalah satu bagian dari “Langue” dan “Parole”. Mari kita telusuri lagi apa itu yang disebut dengan “langue” dan apa yang disebut dengan “parole”.
Langue merupakan sumber dari sebuah budaya; kaidah-kaidah grammatikal. Kaidah yang menjadi dasar dari sebuah budaya. Dengan kata lain “parole” merupakan signifikasi yang memaknai wacana bukan dalam konteks komunikasi melainkan pemaknaan berdasarkan benda, gejala alam, atau gejala social yang ada. Oleh karena itu, mengkaji wacana dalam sebuah budaya masyarakat akan melibatkan banyak hal didalamnya sehingga tidak biasa mengakaji budaya berdasarkan satu sisi saja. Budaya bangsa arab berbeda dengan bangsa barat. Mengapa terjadi diferensiasi budaya?
Parole merupakan praktik berbahasa itu sendiri; berlaku secara social. Parole lebih mengarah kepada penggunaan bahasa atau wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pandangan parole, komunikasi melibatkan beberapa hal; siapa berbicara tentang apa kepada siapa dalam kondisi yang bagaimana.
Dalam kajian wacana kita akan lebih banyak mengarah ke parole daripada langue. Mengkaji wacana tidak akan bisa lepas  dari konteks yang merupsksn lingkungan kebahasaan, fisik, atau mental yang dirujuk oleh pemakai (unsur) bahasa dalam wacana dan menentukan makna ( dalam struktur semantic).
Apa syarat dari sebuah wacana itu ?. apakah wacana itu harus berupa teks yang panjang  lebar yang menguraikan banyak hal? Apakah harus terdiri dari beberapa paragraph. Tidak salah pendapat tersebut pun tidak sepenuhnya benar, satu kata pun bisa pula lah kita sebut itu wacana bahkan sebuah simbolpun bisa kita katakana itu wacana. Berikut ini contoh-contoh wacana:
1.       Stop
2.       Yang itu saja
3.       Hakim: “apa betul pak N hadir dalam rapat itu?”
Saksi: “ya”..

4.       Toilet 

Jumat, 05 September 2014

Meneropong Indonesia di masa yang akan datang



Gonjang ganjing pemilihan umum 2014 usai sudah. Akhirnya Indonesia mempunyai presiden baru lagi. Ya, presiden RI ke 7.Banyak yang optimis menaruh harapan bahwa pemerintahan ke depan akan membawa angin segar bagi bangsa Indonesia. Tapi apakah kita sebagai rakyat sudah siap untuk mengawal pemerintahan yang baru ini. Rakyat kita sudah cerdas dalam memilih tapi apakah rakyat kita    cerdas dalam mengawal pemerintahan ke depan.
Ada yang mengatakan bahwa kedepan sekitar tahun 2030 an Indonesia akan menjadi Negara adikuasa dan termasuk Negara besar. Hal ini terlihat pada tingginya pertumbuhan ekonomi Negara yang mencapai 6 persen. Saya kembali bertanya apakah pernyataan semacam ini memang benar-benar berdasarkan fact (bukti) ataukah hanya prasangkaan semata (logika mistika). Kalau kepercaan itu termasuk ke dalam logika mistika saja maka belum benar pernyataan itu.
Sebagai rakyat intelektual bolehkah kita koreksi pernyataan semacam ini. Ekonomi yang sehat itu dilihat dari segi apa? Apakah itu hanya dari kacamata pemerintah atau sudahkah itu benar-benar dirasakan rakyat.
Sekitar 9 persen orang Indonesia masih tergolong miskin. Angka yang masih cukup fantastis jika kita mengambil pernyataan bahwa ekonomi Indonesia itu bertumbuh dengan baik.
Mimpi Indonesia akan menjadi bangsa yang besar hanya jika pemerintahan dijalankan dengan jujur dan tidak membebani rakyat. Rakyat pun tidak berlepas tangan terhadap kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Memang pada dasarnya revolusi seperti yang dikatatan bung Karno belum selesi dan tidak akan pernah selesai karena kodrat hidup di dunia itu adalah berganti. Zaman akan terus berganti, generasi baru akan terus lahir dan perubahan itu adalah suatu keniscayaan dalam hidup ini. Perubahan itu bisa saja kearah yang buruk atau yang baik.
Di Indonesia banyak orang pintar. Banyak professor, doctor, insinyur dan orang pintar lainnya. Tapi kalau hanya memimpin Negara ini dengan logika saja maka akan habis juga lah bangsa ini. Logika materialism yang selalu mementingkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan bangsa.

Jakarta, 6 september 2014