Cheeky Quotes

Sabtu, 11 Oktober 2014

balada Usup Haryono

         Di tempat kerja Yono, ada karyawan baru yang berasal  dari aceh. Yono sang manusia super langsung saja mendekati karyawan yang bernama bu Amel. Waktu itu ibu amel lagi nunggu jam pulang ngantor.
Yono: nunggu jemputan ya bu? (basa basi memulai pembicaraan)
Bu amel: bukan mas, nungu yang nganter mas (sambil senyum)
Yono: bu, Ibu dari Aceh ya?
Ibu amel: iya bener mas
Yono: saya juga dari aceh lho bu (bohongnya keliatan banget  karena nanya pake logat sunda yang kental banget)
Bu amel: oh ya ? (muka bu amel sudah menunjukkan ketidak percayaan).
Datang pak gufron..
Pak gufron: (memberi kode ke pada bu amel, Yono lagi bohong).
Yono: udah berapa lama di Jakarta bu?
Bu amel: hmmm…sebulanan lah mas (logat aceh masih kental)
Yono: ooo, berarti baru ya di Jakarta bu? Udah jalan ke mana aja bu?
Bu amel: pas idul adha kemarin ke ini sih… Blok M.. tapi toko nya banyak yang tutup. Jadi bosen juga
Yono: wah…coba ibu jalannya sama saya pasti gak bakalan bosen(mulai lagi).
Bu amel: (menahan tawa)
Yono: ada saudara di Jakarta?
Bu amel: ga mas
Yono: kalau gitu ibu pasti sedih… ya udahlah bu jadiin saya aja saudara ibu…(ngarep). Ntar kalo ada yang gangguin ibu bilang aja ke saya..
Bu amel: oh ya mas, saya harus pulang nih…
Yono: mau saya anterin ga bu sampe stasiun?
Pak gufron: (datang bawa helm dan jaket) biar saya anterin bu

Jumat, 10 Oktober 2014

Menuju UI 1: Pemilihan Rektor Universitas Indonesia 2014



Tahun 2014 memang kalau boleh kita katakan adalah tahun politik-ria. Berbagai hajatan politik telah disuguhkan kepada rakyat. Begitu pula yang akan terjadi di Kampus Universitas Indnesia. Belum lagi selesai pelantikan Presiden Republik Indonesia terpilih Ir. Joko Widodo, kali ini giliran kampus kuning memilih pemimpinnya. Ya benar, Masyarakat Universitas Indonesia akan  memilih Rektor nya yang baru. Sesuai dengan urutannya UI akan memilih Rektor yang ke 14 tahun ini.
Memang ruang lingkup nya lebih kecil. Namun mengingat peranan perguruan tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di sebuah negara sangatlah strategis, maka proses pemilihan rektornyapun akan menjadi menarik untuk disimak. Sebagaimana layaknya, perguruan tinggi tidak hanya bertujuan mencetak sarjana-sarjana yang mampu secara akademis akan tetapi juga menyiapkan sarjana yang mumpuni guna menghadapi tantangan global.
Rektor sebagai pimpinan Universitas memiliki tanggungjawab sebagai pionir utama yang menjalankan tri darma perguruan tinggi-Pendidikan,penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat-. Dengan kata lain rektor bertanggung jawab ke dalam universitas; membina tenaga pendidikan, mahasiswa, tenagaga administrasi, dan fakultas-fakultas. Adapun ke luar universitas  rektor  bekerja sama merangkul  para tenaga ahli universitas menjalankan dan mengembangkan penelitian yang manfaatnya hendaknya dirasakan oleh masyarakat.
Syahdan sosok rektor menjadi penting untuk diperhatikan. Kita tidak ingin rector adalah orang yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Kita tidak ingin rector yang penuh dengan pencitraan. Kita pun tidak menginginkan rektor yang punya segudang gelar akemik tapi miskin kontribusi untuk masyrakat. Kita menginginkan rektor yang bersahabat yang lebih “memahasiswa”. Kita ingin rektor kita adalah orang yang mampu membawa universitas kea rah kemajuan ilmu dan peradaban.

Bagaimana mekanisme nya?
Hal pertama yang dilalui adalah Pendafaran rektor. UI membuka kesempatan seluas-luasnya bagi insan yang merasa memenuhi kualifikasi. Dalam pada itu, tidak menutup kemungkinan “warga nonUI” untuk ikut mendaftar. Ada dua mekanisme di sini yaitu pendaftaran dan undangan. Bagi siapa yang merasa mampu bisa saja mendaftar dan bagi orang yang dirasa mampu tapi kurang populer maka orang tersebut akan diundang.
Dari proses pendaftaran tahap awal terjaring 27 orang dengan latar belakang yang berbeda beda namun sebagian besar berasal dari UI sendiri. 20 orang berikutnya akan tersingkir sehingga menyisakan 7 orang kandidat. Dari 7 kandidat akan disaring lagi menjadi 3 calaon dan dari 3 calon itu baru ditetapkan 1 rektor terpilih.
Dalam pemilihan Rektor ini akan melibatkan Staf Akademik Universitas ,Panitia Penyaringan dan Penjaringan Calon Rektor (P3CR), dan Majelis Wali Amanat
Mengawal pemilihan rektor memang penting tapi mengawal pemerintahan rektor jauh lebih penting dan di sini sebenarnya jiwa kritis mahasiswa diminta.



Dengan Pak Dosen



Pak dosen, yang baik hati
Jangan lah terlalu banyak memberikan kami tugas pak
Pening pula kepala kami pak
Sementara tugas yang kemarin belum lagi selesai pak
Datang pula yang baru pak

Pak dosen, bagaimana kalau kuliah kita sekali-kali di warung kopi pak
Sambil menikmati secangkir kopi susu, teh telur, kopi tubruk, kopi aceh dan sepiring gorengan pak
Tak apa kami yang iuran untuk mentraktir pak dosen pak

Pak dosen, bagaimana kalau kuliah kita padatkan  saja hari ini pak
Besok-besok tidak perlu ada kelas lagi pak

Pak dosen, yang hebat
teori-teori bapak sangat luar biasa pak
Tapi bolehkah saya bertanya pak?
Apakah teori ini bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari pak?

Pak dosen, tugas saya belum selesai pak
Bolehkah tugas saya kumpulkan minggu depan ( itupun kalau sudah selesai) pak
Sebab saya terlalu sibuk akhir-akhir ini pak
Jadi berilah saya tenggat waktu ya pak

Pak dosen, kata nya bapak ada rapat pagi ini ya pak
Berarti tidak ada pekuliahan ya pak?
Ya, sebenarnya kami sedih pak
Sedih karena uang ongkos yang udah terlanjur pak

Pak dosen yang saya hormati, maaf saya agak telat pak
Saya bangun kesiangan pak
Macet pak
Kucing saya belum mandi tadi pak
Semalam ngerjain tugas pak
Tapi tugasnya boleh dikumpulkan minggu depan kan pak

Pak dosen, saya minta izin tidak hadir hari ini pak
Lagi ngerjain tugas pak
Kalau sudah selesai saya kumpulkan ya pak, minggu depan tapi ya pak
Tapi nilai saya jangan dikurangi ya pak

Pak dosen, yang sedang memberi kuliah
Saya izin ke kamar mandi dulu pak
Biasa pak
Mau cuci muka pak
Agak ngantuk pak
Habis itu mau ke kopma bentar ya pak
Ngopi bentar pak
Supaya ga ngantuk lagi pak

Pak dosen, tunggu sebentar pak
Saya mau poto sama bapak, bolehkan pak?
Biar nanti saya liatkan ke orangtua saya pak
Orang tua saya pasti senangpula hatinya pak






Minggu, 05 Oktober 2014

Hari Batik Nasional (HarTikNas)


           
           
             Selasa malam saya mendapat SMS dari kawan, begini bunyi teks nya “Besok pake batik, Hari Batik Nasional”. Saya mengiyakan,tanpa sempat membalas pesan pendek nya itu.
            Rabu pagi saya datang ke kampus dan melihat para mahasiswa dan dosen sudah mengenakan batik dengan berbagai corak dan warna. Didukung oleh kecanggihan teknologi yang memungkinkan seruan untuk mengenakan batik tentulah informasi tersebut dengan cepat menyebar. Ada juga saya lihat beberapa mahasiswa saya lihat tidak mengenakan batik.  Saya rasa merasa tertarik juga dengan wacana –HarTikNas (Hari Batik Nasional)- ini. Namun dalam pada itu saya pun insaf dan bertanya diri sendiri sejak kapan tanggal 2 oktober itu ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Tentu hal ini perlu kita telusuri juga bagaimana perihal semacam ini bisa muncul.
Saya coba ketikkan pula kata Hari Batik Nasional pada mesin pencari google dan begini hasilnya:
Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN  hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik.
                Ternyata sudah 5 tahun diperingati karena sejak tanggal 2 itulah kita mendapat legitimasi UNESCO. Dengan demikian dapatkah kita katakan dan nyatakan bahwa batik benar-benar telah menjadi ciri khas dan sekaligus jatidiri bangsa?
            Batik merupakan sebuah mahakarya seni nan indah, sangat lah akan ragam motif, warna serta disainnya sendiri. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas batik tersendiri, semisal megamendung yang terkenal dari Jawa Barat, ada lagi batik Jawa, batik Sumatera, batik Kalimantan, batik Maluku, batik Papua  dan lain sebagainya. Dari semua batik tersebut dapatlah kita katakan bahwa sumber inspirasinya dari alam. Alamlah yang menjadi guru bagi manusia.
            Sejatinya  Membatik berarti menuangkan nuansa-nuansa indah yang ada  di alam raya ini ke atas secarik kain. Ada nilai estetika di situ.
Kesadaran mengenakan batik sudah merupakan awal yang baik dan bagus. Ada baiknya kebiasaan ini jangan hanya sampai terhenti di situ akan tetapi nilai yang terkandung d dalamnya juga kita resapi.
           

  

Rabu, 10 September 2014

Hanya ada 1 kata “LAWAN”

Lawan bukanlah Berkawan
Lawan berarti tidak kawan
Lawanlah setiap bentuk ketidak adlian
Karena dengan melawan berarti peduli
Lawanlah setiap bentuk penindasan

Lawanlah politik kekuasaan

Selasa, 09 September 2014

Kajian Wacana

Apa yang muncul di benak kita jika mendengar kata wacana? Mungkin saja kita akan menjawab wacana sama dengan teks bacaan, atau mungkin kita menjawab wacana itu sama dengan perencanaan.
Tidak ada salahnya anda berpendapat demikian karena anda memiliki sudut pandang tersendiri. Sedangkan kalau wacana kita lihat dari sudut pandang ilmu lingustik adalah satu bagian dari “Langue” dan “Parole”. Mari kita telusuri lagi apa itu yang disebut dengan “langue” dan apa yang disebut dengan “parole”.
Langue merupakan sumber dari sebuah budaya; kaidah-kaidah grammatikal. Kaidah yang menjadi dasar dari sebuah budaya. Dengan kata lain “parole” merupakan signifikasi yang memaknai wacana bukan dalam konteks komunikasi melainkan pemaknaan berdasarkan benda, gejala alam, atau gejala social yang ada. Oleh karena itu, mengkaji wacana dalam sebuah budaya masyarakat akan melibatkan banyak hal didalamnya sehingga tidak biasa mengakaji budaya berdasarkan satu sisi saja. Budaya bangsa arab berbeda dengan bangsa barat. Mengapa terjadi diferensiasi budaya?
Parole merupakan praktik berbahasa itu sendiri; berlaku secara social. Parole lebih mengarah kepada penggunaan bahasa atau wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pandangan parole, komunikasi melibatkan beberapa hal; siapa berbicara tentang apa kepada siapa dalam kondisi yang bagaimana.
Dalam kajian wacana kita akan lebih banyak mengarah ke parole daripada langue. Mengkaji wacana tidak akan bisa lepas  dari konteks yang merupsksn lingkungan kebahasaan, fisik, atau mental yang dirujuk oleh pemakai (unsur) bahasa dalam wacana dan menentukan makna ( dalam struktur semantic).
Apa syarat dari sebuah wacana itu ?. apakah wacana itu harus berupa teks yang panjang  lebar yang menguraikan banyak hal? Apakah harus terdiri dari beberapa paragraph. Tidak salah pendapat tersebut pun tidak sepenuhnya benar, satu kata pun bisa pula lah kita sebut itu wacana bahkan sebuah simbolpun bisa kita katakana itu wacana. Berikut ini contoh-contoh wacana:
1.       Stop
2.       Yang itu saja
3.       Hakim: “apa betul pak N hadir dalam rapat itu?”
Saksi: “ya”..

4.       Toilet